Kawan Pahlawan
Tak bisa dipungkiri, lingkungan supportif menjadi aspek yang sangat penting dalam proses pengembangan diri seseorang. Bukan tak mungkin bagi seseorang mampu mencapai tujuannya dalam lingkungan yang tidak mendukung atau bahkan cenderung toxic. Namun, pastilah terdapat gap cukup besar, dilingkupi berbagai tantangan yang perlu dihadapi dengan tekad dan keberanian tinggi.
Salah satu komponen lingkungan adalah kawan atau teman. Hari ini (Senin kemarin), aku kembali disadarkan, aku merasa sangat beruntung dan begitu bersyukur kepada Allah SWT. Aku kini (dan sebelumnya) selalu dikelilingi teman-teman super baik yang rela berbagi insight dan membantuku menghadapi tantangan.
Pagi itu, aku dan kelima temanku memiliki jadwal presentasi tugas besar salah satu mata kuliah. Karena keterbatasan waktu perkuliahan, setiap kelompok hanya diperbolehkan melakukan presentasi paling lama selama 10 menit. Hal ini membuat kelompok kami berlatih cukup lama dan memperhatikan beberapa hal detail agar dapat menyanggupi syarat waktu tersebut.
Salah satu siasat yang digunakan adalah dengan membuat script, serta mengatur timer dan mencatat waktu pembacaan script tersebut. Selama latihan, script ini terus berubah demi mencapai penyesuaian waktu maksimal, agar poin-poin yang disampaikan benar-benar padat. Pada prosesnya, aku mendapat beberapa masukan dari teman-teman kelompokku. Mereka menyampaikan saran dengan bahasa yang halus, mudah dipahami, tanpa ada nada atau pembawaan yang terkesan memaksa.
Hal ini membuatku merasa nyaman dan bersemangat agar bisa terus memberikan yang terbaik — salah satu caranya dengan mempertimbangkan masukan tersebut dan melakukan revisi relevan, hingga aku menemukan script yang menurutku bisa disampaikan secara efektif dan efisien dalam presentasi kelak.
Berpuluh kali aku mengulangi script tersebut, baik dengan suara lantang maupun berbisik pada malam hari. Saat terbangun, aku pun beberapa kali mencoba kembali me-refresh ingatan tersebut. Tak lupa, aku juga berlatih dengan menambahkan bahasa tubuh, serta mencoba skenario apabila nantinya kelompok kami harus memegang ponsel pada salah satu tangan sebagai microphone di Zoom Meeting.
Saat sudah mengenenakan pakaian rapi, aku menyempatkan diri berlatih beberapa kali, sembari sesekali merekam suara dan mengambil video dari sesi latihan tersebut, kemudian memutar ulang dan melakukan evaluasi mandiri. Setelah merasa siap, aku memesan ojek online dan langsung menuju ke kampus.
Sayangnya, setibanya di kampus, rasa gugupku begitu tinggi sehingga pada latihan pertama sebelum kelas mata kuliah pertama, ucapanku sangat tidak jelas dan tidak teratur, bahkan membaca poin pada slide pun rasanya tak sanggup. Pada latihan kedua seusai kelas tersebut, tepat 10 menit terakhir sebelum mata kuliah tugas besar berlangsung, aku mulai bisa kembali mengingat apa yang telah kuhafal semalam sebelumnya, tetapi rasa gugupku menjelma menjadi kecepatan berbicara bagiakan raper.
Sedihnya, saat presentasi, pada awalnya, aku tak mampu mengendalikan kecepatan tersebut. Untungnya, teman-temanku yang sedang tidak berada di dalam frame Zoom Meeting — fun fact, kami menggunakan satu akun Zoom yang sama, menampilkan wajah secara bergantian, bergantung pada bagian presentasi — memberikan kode agar aku dapat menurunkan kecepatan, disertai ekspresi hangat yang mampu membangun situasi mendukung.
Dari sana, aku berhasil perlahan menurunkan kecepatan menjadi normal — tak lagi seperti seorang raper. Saat aku menjawab pertanyaan pada sesi tanya jawab dengan kecepatan berlebih, mereka kembali mengingatkanku dengan melemparkan sejumlah kode. Aku sungguh bersyukur mendapat kesempatan sekelompok tugas besar pada mata kuliah ini bersama mereka.
Di sisi lain, dalam perjalanannya, dimulai dari diskusi rencana, pengerjaan, hingga latihan presentasi, setiap tahap dilakukan dengan penuh keceriaan. Meski memiliki target untuk diselesaikan, sama sekali tak terbangun suasana kaku, canda tawa terselip di antara diskusi kami tanpa menghilangkan keseriusan untuk menyelesaikan tugas.
Hari ini (Senin), aku sungguh-sungguh bersyukur. Terima kasih, Ya Allah SWT. Semoga teman-temanku terus-menerus diberi kesehatan, Aamiin ❤