Roller Coaster Emosi Bersama Otto!

Enyah Resah
3 min readOct 12, 2023

--

Poster ‘A Man Called Otto’, from sonora.id

Pada salah satu sesi wawancara perkenalan massa himpunan, sekitar 2–3 bulan lalu, ada seseorang yang menyebutkan ‘A Man Called Otto’ sebagai film favoritnya. Setelah sedikit mencari tahu melalui internet, aku cukup tertarik untuk menontonnya sehingga aku memasukkan judul film tersebut ke dalam watch list-ku. Sayangnya, baru kali ini aku mendapat kesempatan untuk menikmati setiap scene film sampai habis — singkatnya karena mendadak aku ingin menonton film sedih.

Benar saja, pada 20 menit pertama film, mataku mulai berkaca-kaca. Hatiku mulai tersentuh hingga aku berhasil ‘masuk’ ke dalam emosi yang coba digambarkan dan disampaikan sang sutradara film melalui setiap scene. Berbeda dengan kebanyakan film yang menyajikan ‘bumbu-bumbu’ kesedihan pada sekumpulan scene secara berurutan — umumnya pada bagian akhir, ‘A Man Called Otto’ memberikan nuansa baru dengan menyelipkan rasa haru dan senang secara bergantian.

Film dibuka dengan adegan Otto berbelanja di sebuah swalayan. Dari aktivitas yang ditunjukkan, watak Otto mulai tergambar sebagai sosok yang sangat strict terhadap aturan dan terkesan enggan bercanda — bahkan cenderung terlalu ketus. Meski demikian, orang-orang di sekitarnya menanggapi karakter tersebut dengan respons variatif, mulai dari tetap memasang senyuman hangat hingga turut tersulut emosi.

Sebelum masuk lebih jauh, film menampilkan sebuah catatan peringatan, khususnya bagi mereka yang sensitif terhadap suatu hal. Dari catatan ini, aku mendapat gambaran ke mana alur cerita menuju. Benar saja, belum sampai setengah film, tebakanku benar adanya. Namun, tak semudah itu, kisah ini masih panjang, banyak character development setiap tokoh yang belum terungkap.

Otto rupanya hampir putus asa sejak meninggalnya istri tercinta, Sonya. Satu-satunya alasan Otto bertahan hidup hanyalah Sonya, wanita yang berhasil memberi ‘warna’ dalam hidupnya. Bayang-bayang Sonya terus berputar dalam kepala Otto, terlihat pada setiap kejadian kecil yang mampu membangkitkan kenangan Otto bersama istrinya. Hal ini terus berulang hingga cerita di balik kepergian Sonya akhirnya terungkap.

Dengan keputusasaan yang Otto rasakan, ia berkali-kali hampir menyerah dalam menjalani hidup. Pada setiap kesempatan mengakhiri hidup, suara Sonya terngiang dalam pikiran Otto bersamaan dengan segala kebetulan yang membatalkan niat ‘tak masuk akal’ tersebut. Sebaliknya, Otto justru perlahan-lahan membuang pikiran tersebut seiring dengan melembutnya hati Otto melalui kebaikan-kebaikan kecil yang tanpa sadar ia lakukan kepada orang-orang di sekitarnya.

Di sisi lain, Otto memiliki beberapa tetangga dengan karakter beragam, semuanya terlibat pada character development Otto: mulai dari Marisol sekeluarga — tetangga persis seberang kediaman Otto yang berasal dari Meksiko, hingga Anita — sahabat dekat istrinya. Pada beberapa interaksi yang terjadi, diselingi kilas balik masa lalu Otto bersama sang istri, di sanalah rasa sedih terpantik sehingga air mata tak lagi dapat dibendung.

Cerita dalam film mengalir dengan sangat baik, setiap adegan memiliki makna tersirat dan berperan penting membangun adegan berikutnya sebagai satu kesatuan. Sang sutradara berhasil memicu dan mempertahankan rasa penasaran penonton sampai akhir cerita. Tak ada satupun adengan membosankan, dinamika cerita hampir tak bisa ditebak. Setiap kejadian dikemas dengan menarik dan fresh.

Dari film ini, ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik, seperti betapa berharganya seseorang dalam hidup orang lain, pentingnya menjalin hubungan baik dengan tetangga, mengerikannya pengaruh ‘terjebak’ pada masa lalu, takdir yang terkesan terjadi secara kebetulan, tetapi nyatanya selalu memiliki makna tersendiri, serta pentingnya menghargai setiap momen dalam hidup dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang bahkan tak mampu kita prediksi.

Dari seluruh aspek, film ini patut diacungi jempol dan sangat direkomendasikan bagi kamu yang sedang mood ber-sedih-ria. Dijamin, bahkan tanpa aba-aba, air matamu akan mengalir dengan sendirinya. Catatan: kamu bisa menonton film ini di Netflix, selamat menonton!

--

--

Enyah Resah
Enyah Resah

Written by Enyah Resah

Tulis, tulis, tulis! Apapun, demi mengurai pikiran-pikiran yang tak jemu menghantui hari-hari sunyi.

No responses yet